Visi dan Misi

Visi

Terwujudnya peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman

Penjelasan VISI :

  1. TERWJUDNYA : kata ini dipilih dengan maksud untuk menyatakan bahwa Gereja KAS merupakan bagian dari semua elemen baik swasta maupun pemerintah yang ingin mewujudkan peradaban kasih di Indonesia khususnya di wilayah pastoral KAS dan sekitarnya selama 20 tahun ke depan. Dengan kata lain Gereja KAS hendak berperan secara aktif untuk ikut mewujudkan peradaban kasih bersama pihak-pihak swasta dan pemerintah.
  2. PERADABAN KASIH : suatu suasana Gereja dan masyarakat yang mengalami kehadiran Allah dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Kehadiran Allah ditandai oleh terjadinya keselamatan hidup di duia dan di kehidupan kekal.
  3. SEJAHTERA : tercukupi kebutuhan, aman, sentosa, tidak ada kekhawatiran. Dalam kebutuhan tersebut terutama mencukupi soal pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja.
  4. BERMARTABAT : memiliki martabat; martabat adalah perilaku hidup berdasar nurani yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, menghargai HAM, mengupayakan perdamaian, serta melestarikan keutuhan ciptaan. Perilaku hidup bermartabat yang diperjuangkan tidak hanya sebatas kesalehan individual melainkan harus sampai terbangunnya kesalehan sosial, yang ditandai oleh kebijakan publik yang menjaga pluralitas, mengembangkan gotong royong, dan tidak diskriminatif dalam pengambilan keputusan menyangkut pemenuhan hak-hak dasar/HAM.
  5. BERIMAN : umat memiliki relasi kasih mendalam dengan Allah; relasinya dengan Allah itu secara mendasar mempengaruhi pula relasinya dengan saudara seiman, sesama manusia, dan sesama ciptaan. Pengembangan hidup beriman itu meliputi aspek : pengetahuan, penghayatan, pengungkapan, dan perwujudan iman.

SEJAHTERA, BERMARTABAT DAN BERIMAN merupakan tiga  “PINTU” yang akan dilewati untuk mewujudkan PERADABAN KASIH, yang terkait dengan TRITUGAS Gereja yaitu : sebagai GEMBALA, NABI DAN IMAM.

Misi

  1. Meningkatkan mutu kehidupan bersama umat terutama kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, difabel, kaum tani, nelayan, buruh, dan sektor ekonomi kecil.
  2. Meningkatkan partisipasi umat, baik laki-laki maupun perempuan, dalam memperjuangkan kebijakan publik yang bermartabat dan adil, melestarikan lingkungan sebagai rumah bersama dan nilai-nilai budaya setempat.
  3. Menyelenggarakan formasio iman yang integral, berjenjang, dan berkelanjutan yang bercirikan cerdas, tangguh, misioner dan dialogis (CTMD).
  4. Menyelenggarakan pendidikan yang komprihensif, integral, berwawasan kebangsaan, dan berlandaskan Pancasila bagi masyarakat.
  5. Mengembangkan kerjasama di berbagai tingkat dan berbagai bidang kehidupan yang menyangkut kesejahteraan, martabat manusia, dan keberimanan.

TAG LINES

GEREJA YANG INKLUSIF, INOVATIF DAN TRANSFORMATIF

Gereja yang merengkuh dan bekerjasama dengan semua orang (inklusif), terus menerus membarui diri (inovatif) dan berdaya ubah (transformatif).

STRATEGI Paroki St. Paulus Miki

BERIMAN

  1. Pengembangan reksa pastoral berbasis lingkungan dengan perhatian pada pastoral keluarga menurut jenjang umur (batita, anak, remaja, dewasa, lansia).
  2. Pengembangan karisma dan potensi umat baik secara fisik, emosional, intelektual, dan spiritual.

SEJAHTERA

  1. Peningkatan kerja sama antara umat , kelompok kategorial dan kaum religius (SJ :KPTT ; OSF: pendidikan ; FIC: pendidikan; DSY : ALMA (panti asuhan difabel) pada tingkat territorial : lingkungan, wilayah, paroki dan rayon Bagusto – Bedono, Ambarawa, Girisonta, Ungaran, Salatiga dan Tegalrejo).
  2. Pemberdayaan unit-unit lembaga pelayanan gerejawi baik internal paroki (Pelayanan kesehatan, RKS, Makam St. Faustina), maupun ekternal (Yayasan Sosial Soegijopranoto, KARINA dan LPUBTN) dengan semangat kemandirian, solidaritas, subsidiaritas, dan desentralisasi serta sinergi.
  3. Peningkatan kerja sama dengan swasta, pemerintah dan lembaga keagamaan semua pihak pada semua bidang.

MARTABAT

  1. Pemanfaatan dan penguatan sumber daya akademik, finansial, organisasi dan budaya, teknologi dan sarana-prasarana secara optimal dalam pengelolaan dan pelayanan
  2. Penguatan jiwa ke-Indonesiaan yang mengembangkan pluralitas berdasar  pada asas kemanusiaan dan keadilan merujuk nilai-nilai otentik Pancasila, dengan cara mengembangkan relasi lintas iman ( BKGS, FKUB,FAMILI,…) di berbagai tingkatan teritorial dan kategorial.